Optimalisasi 4 L Melalui Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Pada Jam Istirahat

Permainan rakyat dan olahraga tradisional merupakan warisan kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dalam komunitas masyarakat, diwariskan dan dimainkan dari generasi ke generasi. Penerapan permainan rakyat dan olahraga tradisional saat jam istirahat di sekolah merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia melalui pendidikan dan menumbuhkan kembali karakter budaya bangsa. Selain itu, permainan rakyat dan olahraga tradisional dapat menjadi wadah dalam mengembangkan kemampuan motorik dan kebugaran jasmani peserta didik.

Sekolah hanya perlu menyediakan sarana dan prasarana meliputi halaman sekolah/lapangan/aula dan peralatan permainan rakyat dan olahraga tradisional. Selanjutnya guru dapat memberikan instruksi kepada peserta didik agar mereka melakukan permainan rakyat dan olahraga tradisional yang mengandung gerakan 4 L saat jam istirahat.

Contoh-contoh Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional

Permainan Petak Umpet

Permainan ini dilakukan dengan peraturan sederhana yakni seorang anak harus berhitung dengan mata terpejam, seorang anak berjaga, dan anak lainnya bersembunyi. Ketika selesai berhitung, anak yang berjaga akan memberi tahu kepada anak yang matanya terpejam untuk mulai mencari mereka yang sedang bersembunyi. Tidak ada batasan tempat untuk bersembunyi, tetapi sebaiknya tidak terlalu jauh.

Permainan Kucing dan Tikus

Permainan ini membutuhkan satu anak untuk berperan sebagai kucing dan satu anak berperan sebagai tikus. Anak lainnya saling berpegangan tangan, membentuk lingkaran, dan bergerak memutar seolah-olah membentuk semak-semak/pagar. Tikus berdiri di dalam lingkaran dan kucing berdiri di luar lingkaran. Tujuan permainan ini adalah agar tikus keluar dari lingkaran dan menghindari tertangkap kucing. Meskipun kucing tidak bisa masuk ke dalam lingkaran, ia tetap bisa menarik tangan pemain yang berperan sebagai tikus. Pemain yang membentuk lingkaran harus mencoba dan menjauhkan kucing dari tikus dengan mengangkat tangan mereka supaya membiarkan tikus masuk dan keluar dari lingkaran. Jika tikus tertangkap, mereka akan bergantian peran.

Permainan Loncat Tali

Permainan ini dilakukan bergiliran untuk mencoba melompati tali yang dipegang oleh dua orang anak di setiap ujungnya. Ketinggian tali mulai dari setinggi pergelangan kaki dan secara bertahap akan naik setelah pelompat berhasil melompati ketinggian yang lebih rendah. Selain itu, tali digerakkan memutar ke kanan kemudian pemain yang melompat tidak boleh menginjak/menyentuh tali yang sedang diputar. Jika pemain yang melompat menginjak/menyentuh tali maka bergantian menjadi pemegang tali. Tali yang digunakan terbuat dari ratusan karet gelang yang dirangkai menjadi satu untuk membentuk untaian panjang.

Permainan Gobak Sodor

Permainan gobak sodor ini dapat dimainkan oleh 8-10 anak, dengan bentuk lapangan berupa kotak persegi berukuran besar yang bisa dimasuki oleh semua anak. Semua anak yang ikut bermain dibagi menjadi dua kelompok. Kedua kelompok bergantian peran menjadi penjaga dan yang dijaga. Kelompok penjaga akan berjaga di sepanjang garis yang menjadi tanggung jawabnya agar tim lawan tidak bisa keluar dari kotak persegi yang sudah dibuat. Setiap anak yang berhasil keluar dari kotak tersebut (tanpa tersentuh oleh penjaga) mendapatkan poin 1. Regu yang memperoleh poin terbanyak akan menjadi regu pemenang

Permainan Jingkrak/Engklek

Permainan ini dilakukan di atas lapangan yang rata dan dibuatkan garis-garis yang membentuk kotak-kotak bujur sangkar berukuran kurang lebih 50 x 50 cm sebanyak tujuh kotak. Setiap pemain membawa satu pecahan genting atau batu yang berbentuk pipih untuk dijadikan alat permainan. Sebelum permainan dimulai, semua pemain melakukan suit/ tos/hompimpa untuk menentukan giliran bermain. Pemenang pertama suit/tos/hompimpa mendapat giliran bermain pertama, dan pemenang suit/tos/hompimpa kedua mendapat giliran bermain kedua, dan seterusnya.

Permainan Kucing Jongkok

Pada permainan ini seorang anak akan berperan sebagai kucing yang mengejar anak lainnya. Permainan dilakukan secara berkelompok, setiap kelompok terdiri atas 5-8 orang.
Sebelum permainan dimulai, setiap kelompok menentukan satu siswa yang berperan sebagai kucing, dengan cara suit/tos/hompimpa. Permainan dimulai dengan hitungan 10 yang diucapkan oleh kucing, dan anak lainnya segera bergerak bebas di area yang ditentukan. Kucing mengejar anak lainnya. Anak yang terkejar (tersentuh) langsung berganti peran menjadi “kucing”.
Jika tidak mau menjadi kucing, dia harus segera jongkok, dan kucing tidak boleh menyentuh anak yang jongkok. Ketika kucing mengejar anak lainnya, anak yang jongkok tidak boleh langsung berdiri dan berlari-lari kembali sebelum pemain lain menolong dengan cara menarik tanggannya, dan kucing selalu mengawasi dan selalu siap untuk mengejar setiap pemain yang akan ditolong. Dalam permainan ini tidak ada batas-batas akhir permainan yang ditentukan

Permainan Bentengan

Permainan Bentengan adalah permainan dua regu/kelompok (4-8 orang) yang saling merebut/menduduki benteng/markas lawan dan saling mempertahankan atau menjaga bentengnya sendiri untuk tidak direbut/ diduduki lawan. Benteng dapat berupa sebuah tiang, pohon, atau pilar.
Permainan diawali oleh seorang pemain dari salah satu kelompok keluar dari markas untuk memancing pemain lawan keluar dari markasnya. Pemain yang lebih dulu keluar dari markasnya hanya dapat ditangkap oleh pemain yang keluar markas berikutnya dari kelompok yang berlawanan.
Jika tertangkap (disentuh), pemain tersebut jadi tawanan dan harus diam berdiri di daerah dekat markas lawannya sambil menunggu dibebaskan oleh teman sekelompoknya dengan cara disentuh. Jika sudah tersentuh, tawanan harus secepat mungkin kembali ke markasnya untuk melanjutkan permainan. Setiap regu harus berusaha menangkap semua pemain lawan untuk dijadikan tawanan, hingga markas lawannya kosong tidak ada yang menjaga, dutnya markas lawan dapat dikuasai/diduduki.